PENGGAMBARAN BAIK DAN BURUK DALAM WAYANG PURWAK

Wayang, terutama wayang purwa, rasanya telah menjadi pandangan hidup orang jawa, setidak-tidaknya oleh orang jawa yang suka wayang. Wayang bagi orang jawa adalah sumber inspirasi dan media pengajaran budi pekerti, moral dan pandangan hidup yang telah tertanam sejak ratusan tahun yang lalu. Wayang yang mengambil setting sejarah peradaban hindu kuno di India, diadaptasi sedemikian rupa seolah-olah merupakan kebudayaan asli Indonesia.
Terlepas dari itu semua, dalam wayang penggambaran tokoh merupakan penggambaran hitam-putih atau buruk-baik. Namun walau begitu penggambaran tersebut ternyata tidak bisa dilepaskan dari pandangan pencerita terhadap baik dan buruk tersebut. Kita ambil contoh, misalnya raksasa biasanya menggambarkan watak manusia angkara murka atau yang berwatak buruk. Sedangkan ksatria menggambarkan manusia yang berwatak baik, pembela kebenaran dan tidak pernah digambarkan sebagai raksasa yang buruk rupa. Jadi raksasa atau kstaria tampan sebenarnya tidak menggambarkan suatu bangsa atau suatu jenis manusia.
Namun pernahkah kita membayangkan mengapa Kurawa yang selalu mewakili angkara murka dalam cerita mahabharata tidak dilukiskan sebagai raksasa? Atau mengapa Wibisana yang adalah saudara kandung Rahwana, Kumbakarna dan Sarpakenaka justru digambarkan sebagai seorang kstaria yang tampan, tidak seperti saudara-saudaranya?
Demikian juga, kumbakarna adalah kstaria yang menjadi contoh para ksatria pembela negara, mengapa justru digambarkan sebagai raksasa paling besar?
Mungkin inilah jawabannya. Sejarah selalu ditulis oleh orang yang memenangkan pertempuran, maka tak heran baik dan buruk pasti dari sudut pandang penulis sejarah yang memenangkan pertempuran. Kurawa tidak pernah digambarkan sebagai raksasa, karena sejahat-jahatnya kurawa mereka masih saudara sepupu dari pandawa. Demikian juga Gathotkaca yang seharusnya raksasa justru digambarkan sebagai ksatria yang gagah, karena gathotkaca adalah anak Bima salah satu dari keluarga pandawa. Para raja yang berperang di pihak Kurawa pun penggambarannya juga berbeda-beda. Misalnya Karna adipati dari negeri Awangga, digambarkan sebagai ksatria karena masih Saudara seibu dari Pandawa. Berbeda dengan Burisrawa atau Prabu Susarma yang tidak punya kaitan darah dengan Pandawa digambarkan sebagai raksasa.
Wibisana tidak digambarkan sebagai raksasa, karena wibisana berperang di pihak Rama, sedangkan Kumbakarna karena berperang di pihak Rahwana maka digambarkan sebagai raksasa.
Yang paling menyedihkan sebenarnya adalah bangsa wanara seperti Sugriwa, Hanoman, Subali dan sebagainya, bangsanya digambarkan sebagai kera, karena mau diperbudak oleh bangsa lain, yaitu bangsanya Rama Wijaya, untuk memerangi kerajaan Alengka, padahal mereka tidak ada sangkut-pautnya sama sekali dengan konflik antara Rama dan Rahwana.
Wallahu ‘alam bissawab.

Ditulis pada Uncategorized

Tentang Blogger

Gathot adalah nama kecil dari M. Fajar Junariyata, anak pasangan Almarhum Sutedjo dan Karti Rahayu yang lahir di Sragen Jawa Tengah tanggal 31 Januari 1966. Masa kecilnya dihabiskan di Desa Masaran Sragen hingga kelas SD kemudian pindah ke SDN Kebondalem Kidul Prambanan Klaten hingga tamat pada tahun 1977. Setamat SD melanjutkan pendidikan SMP di SMP Negeri Purwosuman Sragen dan diselesaikan tahun 1981. Pendidikan SMA diselesaikan di SMA Arjuna Tanjungkarang Lampung setelah sebelumnya sempat mengenyam  SMA Muhammadiyah PrambananYogyakarta, hingga Kelas II. Setamat SMA sempat mengajar di SMP Swasta Gayabaru Lampung selama 2 tahun sebelum akhirnya menjadi PNS di BPKP. Sambil bekerja kuliah di STMIK Budiluhur Jakarta dan meraih gelar Sarjana Komputer tahun 1994. Gelar Magister Komputer diraih pada tahun 1998 dari STTI-Benarif Indonesia Jakarta. Pendidikan S3 Manajemen Pendidikan ditempuh di Universitas Negeri Jakarta namun hingga sekarang belum dapat diselesaikan. Mantan Pembantu Ketua Bidang Akademik STMIK Muhammadiyah Jakarta tahun 2001-2005 dan dosen pada beberapa perguruan tinggi di Jakarta, Banten, Bekasi dan Karawang tersebut saat ini memimpin Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Baitul Ilmi di Bogor sejak tahun 2005. Menekuni budidaya belut, hingga akhirnya mendirikan Pelatihan Budidaya Belut dan menghasilkan dua buah karya tulis: “Panen Belut 3 Bulan di Media Air Bening Tanpa Lumpur” dan ” Usaha Pembibitan Belut di Lahan Sempit”.

Ditulis pada Uncategorized | 2 Komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ditulis pada Uncategorized | 1 Komentar